nurdanian

nurdanian
thumbnail

PERANG BUBAT DI NYIAR LUMAR 2018

Posted by NURDANI on Monday, October 8, 2018

Beberapa tahun lalu, saya dipertemukan dengan seorang kawan yang begitu bangga akan kisah kepahlawanan dan kegemilangan mahapatih Gajahmada. Bertukar kisah tentang Perang Bubat. Obrolan ini cukup menginspirasi dan jadi masukan baru buat saya yang memang selama ini akrab dengan kisah ini.
Kisah Perang Bubat yang saya akrabi adalah sebuah naskah naratif karya kang Hadi Aks, merupakan saduran dari novel dengan judul yang sama karya Pak Yoseph Iskandar. Beberapa kali dipentaskan dalam Nyiar Lumar.
Tahun ini, menjelang kali ke-10 Nyiar Lumar, Perang Bubat akan dipentaskan kembali. Seperti tulisan saya dengan tema yang sama 2 tahun lalu, ini bukan untuk memelihara dendam. Ini hanya sebuah ungkapan kebanggaan akan romantisme sejarah.
Kali ini, saya dipertemukan dengan seseorang yang cukup inspiratif. Ia adalah seorang Bali, Putu Ipan, begitu ia biasa dipanggil. Dari perbincangan singkat, tersirat sebuah ide untuk menambahkan sebuah adegan dalam pagelaran. Sebuah adegan rekonsiliasi antara perwakilan dari Majapahit kepada orang Sunda disaksikan oleh perwakilan dari Bali. Saya pikir, ini dahysat. Meskipin kita mafhum, beberapa waktu lalu pernah saya dengar, langkah rekonsiliasi itu pernah dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat dengan kanjeng Sultan Yogyakarta, dan pemerintah provinsi Jawa Timur.
Tetapi ini lain ceritanya, tidak seperti apa yang dilakukan pemerintah, bahkan bukan untuk mempertebal apa yang dilakukannya. Ini sebuah harmoni budaya. Pendekatannya pun lain, pendekatan kesenian. Akan ada moment kolaborasi. Dan ini adalah pengalaman dan kebanggaan baru bagi saya dan juga bagi anak-anak yang tergabung dengan ikhlas dalam garapan ini.
Yang lebih memberanikan saya, adalah keiklasan dan kebanggaan kawan-kawan pemain, kesaktian dan romantisme kang Ayi Itah Purnama beserta para nayaga dan kegagahan serta keajaiban para kru artistik Raga Rahayu Dipura Dewa Rec Bobong To Chuy's Creators Perikitiew Fahmy Husnulyaqin Aris Widia Sulaksana. Dan tentu dorongan dan jiad dari mahaguru kakang perbu Godi Suwarna.
Akhirnya, dengan segala keterbatasan dan segenap keberanian, Perang Bubat akan kembali terjadi di Nyiar Lumar 2018
10:10:00 PM
thumbnail

10 di 20 tahun

Posted by NURDANI on

Catatan (lagi) Nyiar Lumar 2018



Ini adalah kali kesepuluh. Rentang waktu 20 tahun sedang dilewati.
Sejak awal digelar, saya menyaksikan berbagai hal silih berganti. Berbagai kabar dan berita, berbagai aksi dan reaksi terjadi di setiap moment Nyiar Lumar.
Banyak hal membanggakan dan menggembirakan, meskipun tidak jarang menyedihkan dan menyakitkan, khususnya tanggapan terhadap pelaksanaan acara. 
Tetapi justru itulah yang membuat saya tetap bertahan hingga kini.
Seperti saya tulis sebelumnya, Nyiar Lumar adalah sebuah proses pencarian menuju cahaya. Refleksi perjalanan hidup. Saya tidak berharap banyak. Bahkan dari siapapun yang terlibat bekerja, yang hadir dan berapresiasi bahkan sekedar selfie/gruvie (dengan caption atau tanpa caption), berapriori (khususnya yang hanya berani nyinyir di medsos) . 
Karena harapan dan doa-doa saya terwujud sudah.
Saya hanya ingin menyampaikan hormat dan terimakasih terdalam kepada orang-orang besar di Nyiar Lumar, yang telah bertemu dengan cahaya sejati.
Terimakasih dan hormat saya untuk Bah Wirya, Bah Aléh, kang Yaya Ganda Koncara, Bah Peteng ( Abah Daday )…
Selamat bertemu dengan cahaya sejati….
Tetapi jika boleh saya berharap, itu pun hanya kepada-MU, pemilik sejati dari semesta, sembuhkanlah kang Dang Q (guru dan kakak, inspirator dan motivator Nyiar Lumar)...
10:08:00 PM
thumbnail

NYIAR LUMAR 2018

Posted by NURDANI on

Selama rentang 1998 hingga 2018, Nyiar Lumar di situs Astana Gede Kawali terus berlangsung. Terus berkembang, dinamis seiring bertumbuhnya generasi, bertambahnya partisipan, silih berganti memberi warna dan perwujudan ide-ide serta wacana baru.
Nyiar Lumar adalah sebuah refleksi pencarian. Sebuah proses pencarian cahaya pada kehidupan yang kita jalani. Karena, sejatinya kehidupan adalah kegelapan. Tetapi kegelapan bukanlah hal absolut. ia hanya sebuah wahana, arena bahkan sirkuit. Kegelapan adalah ketiadaan cahaya. Hidup adalah daya, sebuah upaya pencarian cahaya.
 
Lumar, adalah jamur. 
Ia adalah media, ia mampu menyimpan cahaya dan memendarkannya kembali disaat gelap. Lumar bukanlah tujuan, ia hanyalah jalan. Karena cahaya adalah energy yang tak memiliki bentuk. Dan pencapaian hidup bukanlah hal fisik.
Pada Nyiar Lumar, saya tersadar kembali, bahwa hidup hanyalah sebuah perjalanan. Dan akhirnya, kita harus membaca kembali dan menerima jejak apa yang telah kita tinggalkan.
Selamat mencari….
10:05:00 PM
thumbnail

Aku Labalaba

Posted by NURDANI on

Ketidaksadaranku yang biasa
di bening pagi
menjelma katakata
Jadi mari duduk saja
dan biarkan wacana menggelontor
Pada paritparit berbelit
bak jejaring yang tersulam
sejak lama
kuikat simpul tak hingga



Menjawab tantangan berpuisi ria dari Ang Dang Q dan ajakan dari kawan Lintang Ismaya, saya paksakan untuk kembali menulis meski baru mampu satu bait saja, hayu atuh mari Kang Sarabunis Mubarok, Kang Noer JM.....


catatan 07 Mei 2018
9:59:00 PM
thumbnail

Becanda Serius

Posted by NURDANI on

Sabtu pagi ini, aku mendapatkan sebuah ungkapan paradoksal. Berdasar pada celetukan anak bungsuku dijalan saat kuantar ke TK-nya. 
Sepanjang perjalanan aku terus menggodanya biar dia lupa pada tambahan uang jajan yang dia minta sejak berangkat dari rumah. 
Tiba-tiba saja dia menimpali candaanku, "Bapa, kalo becanda yang serius dong! Kan dede jadi gak bingung...." 
Byar...! Aku seperti tertampar, koq becanda tapi serius ?
Gimana urusannya ? 
Itu pertanyaan spontanku. 
Tapi setelah dicermati, memang harus begitu. Sehingga tidak membingungkan dan menyesatkan. 
Jika canda kita serius, maka kita akan mampu mempertanggungjawabkan candaan kita ketika dipertanyakan....
9:53:00 PM
thumbnail

Patilasan Penyebaran Islam di Desa Kawali

Posted by NURDANI on Thursday, October 4, 2018

Kawali, sebuah tempat dengan nama yang melegenda. Kawali pernah tercatat sebagai Pusat pemerintahan kerajaan Galuh sejak tahun 1333 M sampai dengan 1482 M. Nama Kawali disebut pada dua buah prasasti batu peninggalan Prabu Niskala Wastukancana yang tersimpan di situs Astana Gede Kawali. Prasasti tersebut menyebut dan “nu ngeusi bhagya Kawali” (yang mengisi Kawali dengan kebahagiaan).
Dalam sejarahnya, Kawali telah melahirkan raja-raja besar yang memerintah tatar Sunda-Galuh. Mereka diantaranya, Prabu Lingga Buana (Prabu Wangi), Niskala Wastu Kencana (Prabu Wangisutah) dan Prabu Jaya Dewata (Sribaduga Maharaja atau Prabu Siliwangi).
Pada tahun 1482 masehi, Jaya Dewata dinobatkan sebagai Raja Galuh di karaton Surawisesa Kawali sebagai purasaba (pusat kota) kerajaan Galuh. Pada tahun yang sama, Jayadewata di Purasaba Pakuan dinobatkan sebagai Raja Sunda menggantikan pamannya sekaligus mertua, yaitu Prabu Susuk Tunggal.
Setelah menyandang jabatan Raja dari dua kerajaan besar –Galuh dan Sunda, Prabu Jaya Dewata (Sribaduga Maharaja/Prabu Siliwangi) memilih menetap di Pakuan. Dengan begitu Pakuan menjadi Purasaba Sunda-Galuh dan kemudian berganti nama menjadi Pakuan Pajajaran.
Setelah Prabu Jaya Dewata/ Prabu Siliwangi memindahkan pusat kekuasaanya ke Pakuan, Kerajaan Galuh di Kawali hanya menjadi sebuah kandaga lante (kerajaan bawahan).
Kawali kemudian diperintah oleh Sang Ningratwangi pada tahun 1482 – 1507 M. Setelah Ningratwangi wafat, kemudian diteruskan putranya Prabu Jayaningrat pada tahun 1507 – 1529 M.

Situs Penyebar Islam di Kawali 

Ketika tahun 1529 M Kerajaan Galuh ( Kawali ) tunduk pada kesultanan Cirebon. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) menempatkan Dalem Dungkut (1529 – 1575 M), anak Prabu Langlang Buana (Raja Kuningan), menggantikan Prabu Jayaningrat (penguasa terakhir Kerajaan Galuh Kawali) untuk memerintah dan menyebarkan Agama Islam di Kawali.
Pada masa inilah menjadi permulaan masuknya Islam di daerah Galuh-Kawali.

a. Patilasan Mas Palembang 

Setelah Dalem Dungkut wafat, Pangeran Bangsit atau Mas Palembang ( 1575 – 1592 M ) melanjutkan pemerintahan serta meluaskan ajaran agama Islam di daerah Kawali.
Pangeran Bangsit adalah putra Dalem Dungkut. Pangeran Bangsit wafat pada tahun 1592 M dan dimakamkan disebuah tempat yang kini dikenal dengan situs Makam Keramat Mas Palembang. Selanjutnya pemerintahan dan penyebaran agama Islam dilakukan oleh Pangeran Mahadikusumah atau dikenal dengan gelar Maharaja Kawali pada tahun 1592 – 1643 M.
Pangeran Mahadikusumah adalah putera Pangeran Bangsit cucu dari Dalem Dungkut. Beliau adalah salah satu ulama yang dipercaya Kesultanan Cirebon. Pada masa ini, dari Kawali Islam kemudian menyebar ke daerah sekitar lainnya.

b. Patilasan Astana Gede 

Kawali dibawah kekuasaan Kesultanan Cirebon dan penyebaran agama Islam, memberikan perubahan cukup besar pada Kondisi dan situasi wilayah serta penduduk Kawali. Seperti halnya keberadaan situs Linggahyang (Astana Gede Kawali), pada mulanya merupakan situs dengan Prasasti peninggalan Kerajaan Galuh pada masa Prabu Niskala Wastu Kancana, kemudian berbaur dengan makam para penyebar Agama Islam di Kawali.
Ada 11 buah makam di, situs Astana Gede. Yang pertama adalah Makam Pangeran Usman. Makam ini panjangnya 2,93 m. Pangeran Usman adalah keturunan Sultan Cirebon, menantu Maharaja Kawali (Pangeran Mahadikusumah), yang memerintah Kawali tahun 1592-1643 M.
Pangeran Usman adalah salah seorang penyebar Islam di daerah Kawali. Makam lainnya adalah Makam Adipati Singacala, terletak di bagian atas punden berundak.
Dalem Adipati Singacala menjadi Bupati Kawali pada tahun 1643- 1718 M, Ia juga salah satu tokoh penyebar Islam di Kawali. Adipati Singacala adalah cicit Pangeran Bangsit atau Mas Palembang (ayah Maharaja Kawali). Ia menikahi Nyi Anjungsari, putri Pangeran Usman. Nyi Anjungsari pun dimakamkan di Situs Astana Gede.
Setelah Adipati Singacala wafat pada tahun 1718 M, pemerintahan dan penyebaran Islam kemudian dilanjutkan oleh Dalem Satia Meta / Darma Wulan pada tahun 1718 – 1745 M. Ia adalah anak dari Adipati Singacala.
Dalem Satia Meta / Darma Wulan dimakamkan di Astana Gede, berdekatan dengan makam adiknya yaitu Baya Nagasari. Serta masih ada beberapa makam lain yang dianggap keramat diantaranya makam Cakra Kusumah (seorang guru mengaji pada zaman Adipati Singacala), Eyang Sancang (salah seorang pengawal dan penjaga keamanan kabupatian Kawali).
Di samping itu, ada 3 makam Kuncen Astana Gede (Angga Direja, Yuda Praja, Sacapraja), dan makam Surya Wiradikusumah.

c. Patilasan Selapajang 

Selepas masa Dalem Satia Meta / Darma Wulan ( 1718 – 1745 M ), pemerintahan dan penyebaran Islam di Kawali kemudian dilanjutkan oleh Rd. Adipati Mangkupraja I ( 1745 – 1772 M ). Adipati Mangkupraja I wafat dan dimakamkan di Selapajang.

d. Patilasan Gunung Indrayasa 

Kemudian dilanjutkan Rd. Adipati Mangkupraja II (1772 – 1801 M) dan Rd. Adipati Mangkuparaja III (1801 – 1810 M) dan diteruskan oleh Suradipraja I dan Suradipraja II. Mereka kemudian dimakamkan di Gunung Indrayasa.
Disamping itu, terdapat pula beberapa tokoh yang dianggap berpengaruh pada masanya.
Diantaranya Eyang Sacapada, Eyang Mas Bagus dan Eyang Japar Sidik.

e. Patilasan Pasarean 

Eyang Sacapada diyakini sebagai salah satu penyebar islam di Kawali. Eyang Sacapada dimakamkan di sebuah kawasan yang dinyatakan sebagai kawasan ekosistem esensial atau kawasan Perlindungan Setempat, dikenal dengan Situs Makam Keramat Pasarean, berdampingan dengan istrinya yaitu Ibu Andayasari.
Situs Makam Keramat Pasarean terletak di dusun Banjarwaru desa Kawali dengan luas kawasan mencapai 1,10 Ha.

f. Patilasan Gandok 

Sementara, tak jauh dari kawasan Situs Makam Keramat Pasarean, tepatnya di sebuah lingkungan yang disebut Gandok, terdapat sebuah makam keramat.
Di situs makam keramat ini disemayamkan salah satu tokoh yang dianggap paling muda dari tokoh-tokoh lainnya. Beliau dikenal dengan panggilan Eyang Mas Bagus.
Meskipun dikenal termuda diantara tokoh-tokoh penyebar Islam sezaman dengan Eyang Sacapada, Eyang Mas Bagus juga diyakini memiliki pengaruh yang sama dengan yang lain.

g. Patilasan Japar Sidik 

Diantara makam keramat yang ada di Desa Kawali, satu lagi yang dianggap berpengaruh pada zamannya adalah Situs Makam Keramat Japar Sidik.
Di makam yang letaknya dipinggir jalan raya yang mengabadikan namanya, dipusarakan salah satu tokoh yang sezaman dengan Eyang Sacapada dan juga Eyang Mas Bagus. Ia dikenal dengan nama Eyang Japar Sidik.
Menurut riwayat, Eyang Japar Sidik adalah salah seorang Penyebar Islam dengan mendirikan sebuah surau sebagai tempat belajar mengaji dan kanuragan anak-anak Kawali pada masa itu.
7:14:00 AM
thumbnail

Misteri Bebegig SukamantriDalam Festival Bebegig Nusantara 2017

Posted by NURDANI on Monday, July 31, 2017

Oleh : Didon Nurdani
Saya bukan pituin Sukamantri, juga bukan pelaku kesenian Bebegig. Hanya saja saya sedikit tahu dan pernah menyaksikan langsung meskipun hanya sekali dua kali, bagaimana kawan-kawan pelaku seni helaran bebegig berjuang dengan penuh keiklahasan untuk menghidupkan (ngahirup-huripkeun) Kesenian Bebegig, bersimbah peluh mempersiapkan kostum dari bahan-bahan yang tidak bisa dijumpai disetiap tempat, yang begitu memukau ketika dikenakan. Pada saat helaran tiba, kemudian kita hanya tinggal pose dengan berbagai gaya untuk selfi dengan Bebegig, dan bila sempat mengucapkan terimakasih, kemudian diunggah di media social dan memasang caption seenak kita.
Festival Bebegig Nusantara 2017 dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke – 375 telah usai digelar, Minggu 23 Juli 2017. Event terselenggara dengan meriah, menghadirkan berbagai bentuk kesenian yang berkembang di Kabupaten Ciamis, diantaranya Rajah Galuh, pencak silat, terutama mengusung kesenian helaran Bebegig Sukamantri. Lebih dari 100 buah topeng Bebegig Sukamantri dihadirkan. Festival dipungkas dengan penampilan Setia Band.
Festival Bebegig Nusantara 2017 atas prakarsa Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif patut diacungi jempol. Karena ini merupakan upaya nyata pengakuan dan revitalisasi Seni Helaran Bebegig Sukamantri sebagai ikon seni dan budaya di Kabupaten Ciamis.
Catatan prestasi dari seni helaran ini telah berkali-kali mengharumkan Ciamis di level regional maupun nasional. Bebegig Sukamatri yang dimotori oleh pelaku-pelaku seni bebegig dari komunitas seni Baladdewa pada tahun 2016 telah mengukuhkan diri sebagai Juara I tingkat Nasional Festival Kemilau Nusantara.
Jadi sudah selayaknya jika Festival Bebegig Nusantara 2017 digelar dengan dukungan penuh oleh pemerintah Kabupaten Ciamis. Ini merupakan momentum aktualisasi Bebegig di daerah asalnya, setelah bebegig diakui dan selalu diundang pada acara-acara helaran di kabupaten-kota di Jawa Barat hingga Bali. Sebuah pengakuan dan penghargaan dari orang tuanya “pituin” di rumahnya sendiri.
Ini menjadi “kareueus” bagi saya sebagai warga biasa yang kebetulan suka dengan kesenian. Terus terang, ini menjadi harapan besar dan juga ekspektasi yang begitu “wah !” ketika membaca tajuknya.
Betapa hal ini bisa jadi sebuah pijakan besar, sebidang fondasi kuat untuk perkembangan kesenian dan kebudayaan khususnya seni helaran Bebegig Sukamantri.
Hanya saja, dalam event ini, atmosfir seni bebegig kurang begitu terasa. Satu hal yang patut disayangkan adalah tidak adanya helaran yang dilakukan oleh kelompok Bebegig. Biasanya Seni Bebegig melakukan helaran mengelilingi kota diiringi dengan dugig yaitu tabuhan khas para nayaganya. Silih berganti dengan bunyi kolotok, gesekan bubuay, hahapaan serta daun waregu. Interaksi sosok menyeramkan tapi mengundang penasaran, bercengkrama langsung dengan masyarakat yang dijumpai ditengah perjalanan helaran, adalah sebuah peristiwa hidup dan dihidupkannya Bebegig Sukamantri.
Tapi hal itu tidak terjadi. Dan tentu masih banyak lagi hal yang tidak terjadi dalam setiap peristiwa helaran Bebegig.
Terlebih lagi, dari pelaksanaan Festival Bebegig Nusantara 2017, kurangnya upaya sosialisasi kepada masyarakat tentang apa sesungguhnya sosok Bebegig, bagaimana sejarahnya dan apa latar belakang serta manfaat yang dirasakan dengan kehadiran sosok Bebegig ini.
Memang ada pagelaran di panggung dengan cerita yang cukup memberikan informasi tentang apa, bagaimana serta sejarah & perkembangan kesenian Bebegig Sukamantri. Namun itu terlalu sederhana. Bebegig Sukamantri harusnya jadi “panganten”. Kokojo, aura dominan, bintang panggung yang menjadi perhatian utama. Bahkan sounding oleh MC atau ditayangkan profile singkatnya di big screen yang jadi latar belakang panggung megah dan gemerlap pun dirasa tidak maksimal.
Jika tidak cukup waktu persiapan karena memang perlu produksi yang tidak sederhana, kenapa tidak sekalian saja panggil tokoh-tokoh yang menjadi penggerak dan pelaku kesenian Bebegig Sukamatri ke atas panggung untuk menerangkan dialog langsung dengan masyarakat ?
Bukankah itu lebih efisien ?
Selebihnya keberadaan topeng hanya menjadi set dekor dengan pencahayaan yang minim. Bahkan keberadaanya kalah jauh berperan daripada penempatan speaker soundsystem.
Interpretasi awam ketika mendengar kata “Bebegig” yang tergambar dibenak saya adalah orang-orangan sawah. Kemudian ketika melihat sosoknya ternyata begitu menyeramkan. Sederhananya adalah sosok “hantu” atau Jurig. Tapi anehnya sosok menyeramkan tersebut justru bisa berinteraksi mesra dengan masyarakat ?
Ini menjadi masalah yang cukup berpengaruh ketika kesenian Bebegig memang benar-benar diharapkan sebagai ikon seni & budaya di Kabupaten Ciamis dan di usung dalam Festival (yang rencananya) digelar tahunan dengan judul semegah ini.
Bagaimana bisa sesuatu yang kadung dianggap buruk dijadikan ikon ?
Interpetasi seperti inilah yang perlu segera diluruskan. Mungkin sudah banyak sumber-sumber yang terunggah di internet dan teraktualisasi di media massa. Sudah banyak fihak yang tahu, bahkan faham betul dengan Bebegig Sukamantri. Kenapa tidak dijadikan rujukan ?
Eksistensi bebegig masih sangat perlu untuk digali dan disosialisasikan kepada masyarakat. Tentu hal ini perlu dilakukan untuk mempertebal pengakuan dan rasa memiliki masyarakat Ciamis sehingga Sosok Bebebig Sukamantri benar-benar menjadi ikon Ciamis yang sejati.
Dan akhirnya, tulisan ini semoga menjadi apresiasi positif, setidaknya menjadi bahan perenungan kita semua yang merasa kesenian dan kebudayaan bermanfaat dalam kehidupan dan meningkatkan “ajen” masyarakat dan pemerintahan Kabupaten Ciamis.
Semoga Festival Bebegig Nusantara bisa terus digelar ( apanjang-apunjung ), “teu ngabuntut bangkong”, dan Bebegig Sukamantri benar-benar menjadi ikon seni & budaya di Kabupaten Ciamis.
1:42:00 PM
thumbnail

Genap 38

Posted by NURDANI on Wednesday, April 27, 2016

Terimakasih mungkin kata yang tak cukup, atas kerelaanmu menyertaiku hingga kini. Gulir-gulir waktu menggilas usia, angin dan hujan berlalu, hingga kita sampai pada lamunan sepasang kursi rotan dan meja kopi...
10:26:00 AM
thumbnail

PELAJARAN

Posted by NURDANI on Wednesday, September 2, 2015



; Key & El




Sabarlah, nak…
Tuhan tengah mengajarkan sesuatu kepadamu
Pada kita

Kenali dirimu
Dari setiap rintangan dan kesukaran yang kau lalui

Ini cuma soal waktu
Bagaimana setiap kita
Bersiap sendiri


030915
12:16:00 PM